Memahami Gas-Gas yang Menimbulkan Efek Rumah Kaca

Efek rumah kaca (greenhouse effect) adalah penggerak utama perubahan iklim yang  telah terjadi di bumi. Dan penyebab utama terbesar adalah beberapa gas di atmosfer bumi yang menjebak panas matahari. Semakin banyak gas rumah kaca terkonsentrasi di atmosfer, akan semakin banyak panas yang terkunci di dalam molekul. 

Sumber : scitechdaily.com

Sejak tahun 1824 para ilmuwan telah mengetahui mengenai efek rumah kaca. Mereka telah menghitung bahwa Bumi akan jauh lebih dingin jika tidak memiliki atmosfer. Efek rumah kaca alami inilah yang membuat iklim bumi tetap layak huni. Tanpanya, rata-rata temperatur di permukaan bumi akan menjadi 33 derajat celcius lebih dingin. 

Banyak dari gas rumah kaca ini terjadi secara alami. Namun aktivitas manusia sejak revolusi industri telah meningkatkan konsentrasinya di atmosfer. Berikut gas-gas yang menyebabkan pemanasan global. 

  • Carbon dioxide (CO2) 
  • Methane 
  • Nitrous oxide 
  • Fluorinated gases 

Karbon dioxide (CO2) yang dihasilkan oleh aktivitas manusia merupakan penyumbang terbesar pemanasan global. Pada tahun 2020, konsentrasinya di atmosfer telah meningkat menjadi 48% di atas tingkat konsentrasi di jaman pra-industri (sebelum tahun 1750). CO2 adalah gas rumah kaca berumur panjang yang paling signifikan di atmosfer bumi. CO2 juga menyebabkan pengasaman laut karena CO2 larut di dalam air dan membentuk asam karbonat.

Metana adalah gas rumah kaca yang lebih kuat daripada CO2, namun memiliki umur hidup yang lebih pendek di atmosfer. Konsentrasi metana di atmosfer bumi telah meningkat sekitar 150% sejak tahun 1750, dan menyumbang 20% dari total radiasi gas rumah kaca. 

Nitrous oxide, seperti CO2, adalah gas rumah kaca berumur panjang yang terakumulasi di atmosfer selama beberapa dekade hingga berabad-abad. Konsentrasi oksida nitrat di atmosfer mencapai 333 bagian per miliar (ppb) pada tahun 2020, meningkat dengan laju sekitar 1 ppb per tahun. Berdasarkan perhitungan global, sumber dan penyerapan N2O selama dekade yang berakhir 2016 menunjukkan bahwa sekitar 40% dari rata-rata 17 TgN/tahun (Tera-gram Nitrogen per tahun) emisi berasal dari aktivitas manusia, dan menunjukkan bahwa pertumbuhan emisi terutama berasal dari perluasan area pertanian serta industri di negara berkembang. 

Fluorinated gases adalah gas buatan manusia yang dapat bertahan di atmosfer selama berabad-abad dan berkontribusi pada efek rumah kaca global. Terdiri dari hidrofluorokarbon (HFC) – digunakan dalam banyak aplikasi termasuk pendinginan komersial, pendinginan industri, sistem pendingin udara, peralatan pompa panas, dan sebagai agen peniup untuk busa, pemadam kebakaran, propelan aerosol, dan pelarut; Perfluorocarbons (PFCs) – senyawa yang terdiri dari fluor dan karbon, banyak digunakan dalam industri elektronik, kosmetik, dan farmasi, serta dalam proses pendinginan bila dikombinasikan dengan gas lainnya. PFC biasanya digunakan sebagai alat pemadam kebakaran di masa lalu dan masih ditemukan di sistem proteksi kebakaran yang lebih tua. Mereka juga merupakan produk sampingan dari proses peleburan aluminium; Sulfur heksafluorida (SF6) digunakan terutama sebagai gas insulasi dan sering ditemukan pada switchgear tegangan tinggi dan digunakan dalam produksi magnesium. 

Berikut adalah beberapa penyebab dari meningkatnya emisi gas rumah kaca. 

  1. Pembakaran batu bara, minyak, dan gas menghasilkan karbon dioksida dan dinitrogen oksida yang dilepas ke atmosfer. 
  2. Penebangan hutan (deforestasi). Pohon membantu mengatur iklim dengan menyerap CO2 dari atmosfer. Ketika ditebang, manfaatnya dalam menyerap CO2 hilang dan karbon yang tersimpan di dalam pohon akan dilepaskan ke atmosfer, dan menambah efek rumah kaca. 
  3. Meningkatkan peternakan. Sapi dan domba menghasilkan metana dalam jumlah besar ketika mereka mencerna makanan mereka. 
  4. Pupuk yang mengandung nitrogen menghasilkan emisi oksida nitrat. 
  5. Gas fluorinated dipancarkan dari peralatan dan produk yang menggunakannya. Emisi tersebut memiliki efek pemanasan yang sangat kuat, hingga 23.000 kali lebih besar dari CO2.

Erwin K. Awan (12.11.2021)

SGN Consulting

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *