COP26 – Bersatunya Dunia Mengatasi Perubahan Iklim

Pandemi COVID-19 telah menimbulkan bencana bagi jutaan orang di seluruh dunia serta mengacaukan ekonomi global. Pemerintahan di seluruh dunia telah mengambil langkah untuk melindungi kehidupan serta mata pencaharian bagi setiap orang. Namun perubahan iklim masih terus berlanjut, dan pada akhirnya dapat mengancam kehidupan di muka bumi.

Ketika banyak negara mulai pulih dari pandemi COVID-19, di saat yang bersamaan kita juga harus mengatasi perubahan iklim, membangun kembali ekonomi yang lebih hijau serta menjaga suhu planet tetap terkendali, membatasi kenaikannya hingga 1,5 derajat. Sains menyatakan bahwa di paruh kedua abad ini, kita harus memproduksi lebih sedikit karbon. Inilah yang dimaksud dengan ‘net zero’.

Perjalanan sudah dimulai. Meskipun dalam masa pandemi, arah perjalanan telah berganti. Sekitar 70% dari ekonomi dunia sekarang tercakup oleh target nol bersih (net-zero). Dunia sedang bergerak menuju masa depan rendah karbon. Energi yang bersih dan ramah lingkungan, seperti angin dan matahari, sekarang menjadi sumber listrik paling murah di sebagian besar negara-negara; membuat banyak pembuat mobil dunia beralih untuk hanya membuat model listrik dan hibrida; negara-negara di seluruh dunia memulai pekerjaan penting untuk melindungi dan memulihkan alam. Kota-kota dan negara-negara di seluruh dunia juga berkomitmen untuk mengurangi emisi hingga nol.

Sayangnya mengurangi emisi saja tidaklah cukup. Bagi banyak negara, gambarannya jauh lebih suram. Terutama bagi negara-negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, yang telah melihat rumah mereka menghilang di bawah air dan tanaman mereka hancur karena kekeringan. Di tahun 2009, negara-negara maju telah berjanji akan berupaya mengumpulkan $100 miliar setiap tahun pada tahun 2020 untuk membantu negara-negara ini mengatasi perubahan iklim. Dan para negara pendonor harus menunjukkan bahwa target akan tercapai dan bahkan dilampaui.

Tidak ada cara yang memadahi untuk mencapai emisi nol bersih tanpa melibatkan perlindungan dan pemulihan alam dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jika kita serius dalam mencegah kenaikan suhu hingga 1,5 derajat dan beradaptasi dengan dampak perubahan iklim, kita harus mengubah cara kita melindungi tanah dan laut kita dan bagaimana cara kita menanam makanan kita. Hal ini sangat penting jika kita ingin melindungi dan memulihkan keanekaragaman hayati dunia, tempat semua kehidupan bergantung.

Semoga dalam even COP26 tahun ini di Glasgow, UK, akan dihasilkan tindakan dalam melindungi dan memulihkan hutan dan ekosistem kritis, serta menjadi penggerak dalam transisi menuju pertanian yang berkelanjutan, tangguh, dan positif terhadap alam.

SGN Consulting

Erwin K. Awan (05.11.2021)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *