Berkelanjutan karena Pembiasaan

Hari minggu, tanggal 15 November 2020 kemarin diselenggarakan event lari Borobudur Marathon 2020 dalam bentuk format Elite Race Borobudur Marathon 2020 karena yang bertanding adalah hanya 26 atlet yang dipilih organizer berdasarkan catatan waktu di Borobudur Marathon sebelumnya dan rekomendasi PASI.

Dampak wabah pandemi tidak hanya merubah format Borobudur Marathon, namun juga kunjungan wisata ke Candi Borobudur.

Selepas acara Elite Race Borobudur Marathon 2020 tersebut, kami sekeluarga jalan-jalan menikmati keindahan dan kemegahan Candi Borobudur yang menerapkan protokol kesehatan cukup ketat. Para wisatawan hanya diperbolehkan sampai pelataran Candi Borobudur dan harus dipandu oleh tour guide.

Selain wajib memakai masker, saat masuk kawasan, wisatawan akan dicek suhu tubuhnya, bagi wisatawan dengan suhu di bawah 37,5 diberi stiker warna hijau. Lalu wisatawan diminta untuk cuci tangan dan melewati disinfection chamber.

Jumlah pengunjung dibatasi, dimana sebelumnya hanya diperbolehkan hanya 1.500 orang perhari pada bulan Juni 2020, kemudian dinaikkan menjadi 2.000 orang per hari hingga mulai bulan Oktober lalu naik menjadi 3.500 pengunjung per hari. Hal ini terjadi setelah Candi Borobudur sempat ditutup selama 3 bulan, yaitu sejak bulan Maret 2020.

Meski dibatasi hal ini tetap disyukuri, terutama bagi warga yang mempunyai mata pencaharian dari Candi Borobudur, lebih baik sedikit dan perlahan namun berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan konsep Sustainable Niche Tourism yang telah digaungkan sejak 10 tahun lalu.

Masalah paling umum pada penerapan 5S adalah tidak dapat bertahan dalam jangka panjang. Tidak berkelanjutan. Disiplin dalam menjaga standar 5S cenderung menyusut perlahan seiring waktu, sehingga pemborosan yang sebelumnya dapat dihilangkan perlahan akan kembali terjadi.

Hal ini dapat terjadi karena penerapan 5S sering kali dianggap sebagai sebuah proyek yang tidak melekat dalam cara kerja sehari-hari sehingga akan dianggap oleh karyawan sebagai fenomena semata yang bersifat sementara saja.

Di negara Jepang, sejak usia dini prinsip 5S telah diajarkan sejak duduk di bangku sekolah. Sehingga tidak heran para karyawan di perusahaan Jepang mereka sangat ketat dan disiplin dalam penerapan prinsip 5S tersebut.

Sumber foto : brightvibes.com/833/en/should-children-clean-their-own-schools-japan-thinks-so

Sedangkan bagi kita di sini, dapat menjalankan pelaksanaan audit 5S berkala sebagai salah satu solusi untuk mengatasi kendala dalam penerapan 5S. Audit 5S dilakukan untuk mendapatkan informasi faktual di lapangan yang nantinya dijadikan dasar dalam rekomendasi perbaikan untuk mencapai standar yang telah ditetapkan.

Kata kuncinya adalah standar, sesuai dengan S yang ke-4 dalam prinsip 5S yaitu Seiketsu (standardizing / rawat), tujuannya adalah untuk menciptakan konsistensi implementasi 3S sebelumnya, yaitu seiri (sorting / ringkas), seiton (setting in order / rapi), dan seiso (sweeping / resik).

Sedangkan S yang ke-5, yaitu Shitsuke atau sustaining / rajin memiliki tujuan untuk menjamin keberhasilan dari kontinuitas program 5S sebagai suatu disiplin kerja sehingga menjadi pembiasaan atau budaya.

5S tidak akan berhasil tanpa pembiasaan. Dengan pembiasaan tersebut maka besar kemungkinan penerapan 5S akan berkelanjutan dan berhasil serta mencapai tujuan akhir.

Pembiasaan ini merupakan cara untuk mengubah kebiasaan seseorang, yaitu melakkukan hal yang benar sebagai suatu kebiasaan. Pembiasaan adalah jika kita melakukan pekerjaan berulang-ulang sehingga secara alami kita dapat melakukannya dengan benar.

Jika kita ingin melakukan pekerjaan kita secara efektif dan efisien serta tanpa kesalahan, maka kita harus melakukannya setiap hari. Kita harus bekerja keras dan sabar dengan mengembangkan kebiasaan yang baik.

Beberapa tips pembentukan kebiasaan baik adalah sebagai berikut

  • Biasakan sistematisasi perilaku
  • Perbaiki komunikasi dan pelatihan untuk memperoleh mutu yang terjamin
  • Atur supaya setiap orang mengambil bagian dan setiap orang melakukan sesuatu
  • Atur segala sesuatu sehingga setiap orang merasa bertanggung jawab atas apa yang mereka kerjakan
  • Jika mereka membuat kesalahan, manajemen harus menunjukkannya dan memastikan bahwa hal tersebut diperbaiki
  • Setiap orang bekerja sama memperkuat tim dan memperkuat perusahaan

Semoga saja pembiasaan dan kebiasaan baik di Candi Borobudur bisa tetap berkelanjutan serta dapat diterapkan juga di tempat wisata yang lain, sehingga tidak akan menyebabkan lonjakan penderita baru dari wabah pandemi yang tidak hanya melanda di Indonesia, namun juga di dunia.

Salam sehat & salam improvement

18.11.2020

Taufan Yanuar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *